Selasa, 25 Agustus 2015
-Karnaval Hantu-
....
"Jadi Lula mau ikut gak ke karnaval hantu nya? Kalau gak kakak pergi sama Bito aja." Tanyaku kepada adikku yang indigo.
"Jadi Lula mau ikut gak ke karnaval hantu nya? Kalau gak kakak pergi sama Bito aja." Tanyaku kepada adikku yang indigo.
"Gak mau! Lula gak akan mau ikut bersama kakak!
Meskipun dibayar 100 ribu atau sejuta pun!" Tegas adikku, Lula.
Meskipun dibayar 100 ribu atau sejuta pun!" Tegas adikku, Lula.
"Ya sudah, kakak pergi aja ya sama Bito, dah..." sahutku sambil pergi keluar.
"Kak, jangan kak... Lula takut kalau nanti kakak kenapa - kenapa, firasat adek bilang kakak,... kakak,... kakak akan MATI! Tolonglah kak, jangan pergi" mohon adikku yang benar - benar percaya kalau aku akan mati. Hal itu pun membuatku cukup merinding.
"Tapi kan ada Bito yang jagain kakak nanti, tenang aja ya Lul..." sahutku sambil mengacak - acakan rambut adikku lalu pergi bersama Bito.
Akupun pergi bersama Bito dengan berjalan kaki karena antara jarak rumah ke karnaval itu cukup dekat. Akupun tak tahu kalau Lula mengikutiku pergi ke karnaval.
Sesampainya, akupun membayar tiket yg seharga 27.000 lalu mulai masuk dengan diikuti oleh Lula.
Memang, tempat itu cukup "seram". Mulai dari terowongan yang panjang dan gelap yg hanya di terangi cahaya lilin saja. Lalu tiba - tiba ada sekelompok kelelawar yang menurutku palsu terbang tiba - tiba di langit - langit terowongan dengan suara berdecit.
Lalu setelah melewati terowongan itu, kami di hadapkan oleh sebuah ruang rumah sakit yang letak ruang nya berbelit - belit. Kami mendapat petunjuk untuk mencari ruang yang bertuliskan "Exit". Ternyata, untuk melewati semua ruangan itu cukup sulit. Menurutku, rumah sakit ini cocok nya untuk rumah sakit jiwa karena pasien - pasien "boneka" yang di tidurkan disini mirip orang yang tidak waras. Akan tetapi sepertinya Lula tidak takut sama sekali setelah melewati semua itu. Karena ia tahu, mana setan yang asli atau bukan.
Lalu aku menangkap sebuah salah satu "pasien" yang sepertinya duduk di kursi roda dengan di "temani" oleh gergaji. GERGAJI!! Aku memang phobia terhadap benda gergaji. Karena pernah ada seseorang yg melukai tanganku secara brutal dan tanganku hampir putus. Untung saja, aku bisa selamat dan dijahit bekas luka itu di tanganku. Selain itu, akupun kaget karena model gergaji itu dengan gergaji yg pernah melukai tanganku sama. Tapi karena rasa penasaranku cukup tinggi, akupun melewatinya tanpa mempedulikan hal itu.
Tiba - tiba setelah aku melewati orang itu beberapa mil, ada suara gergaji yang menderu keras dan sepertinya datang ke arahku. Lalu aku di tarik oleh seseorang lalu dia menjatuhkan ku di lantai. Sementara Bito mencoba mengangkatku namun gagal, karena badan ku cukup berat. Apalah daya Bito hanya diam tergagap melihatku hampir di bunuh. Aku... aku hanya pasrah menghadapi ini semua, aku rela untuk dibunuh asalkan Bito tidak di bunuh.
Tiba - tiba Lula menyerang pembunuh itu dengan cara mengambil gergaji yang cukup besar itu. Bagaimana mungkin Lula yang kecil dan baru berumur 5 tahun itu bisa mengambil gergaji yg cukup besar itu di tangan pembunuh itu?. Setelah mengambil gergaji itu, Lula langsung membunuh pembunuh itu dengan sigap. Darah dan daging berceceran dimana - mana. Akupun merasa yakin kalau ada diri Psikopat di dalam tubuh Lula.
Setelah membunuh pembunuh itu, Lula menarikku lalu berkata kepada kami berdua, "Lula bilang jangan ke karnaval ini, kalian tidak percaya. Karena ada pembunuh kabur dari penjara dan Lula bisa melihat kalau pembunuh itu ada di Karnaval ini".
-Arisa Kajahara-{[['
']]}









